Abrahamovich’s Blog

Just another Friendster Blogs weblog

Astaga!! Inikah Wajah Antek-Antek Amerika dan Zionis di Indonesia???

Awal Mei 2008, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika serikat memenuhi undangan Simon Wiesenthal Center (SWC), sebuah LSM Zionis garda terdepan di AS. SWC akan menganugerahkan Medal of Valor, Medali Keberanian, buat Durahman yang dianggap sangat berani membela kepentingan Zionis di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar dunia bernama Indonesia.

Dalam konferensi pers di Gedung PBNU Jakarta, sebelum keberangkatannya, Durahman menyatakan bahwa kepergiannya ke AS selain untuk menerima penghargaan tersebut juga akan merayakan seklaigus mengucapkan selamat atas kemerdekaan negara Israel ke-60. Durahman bukannya tidak tahu jika kemerdekaan Israel merupakan awal dimulainya teror, pembunuhan, pemerkosaan, pengusiran yang dilakukan teroris Zionis Yahudi terhadap ratusan ribu hingga jutaan warga Palestina yang sampai detik ini masih jutaan jumlahnya yang menjadi pengungsi di negeri-negeri sekitar tanah airnya. Tapi Durahman telah memilih posisi sebagai sekutu Zionis-Israel, bukan Palestina.

Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los Angeles.

Sebagai tuan rumah adalah Rabbi Mervin Hier (Pendiri SWC dan Rabbi paling berpengaruh di AS 2007-2008), yang dengan tangannya sendiri mengalungkan medali tersebut ke leher Durahman. Durahman sendiri, sambil terus duduk di kursi rodanya, tersenyum dan mencium dengan penuh takzim medali tersebut. Inilah seorang manusia yang bernama Abdurrahman Wahid, tokoh sentral dalam AKKBB.

Sudah sedemikian jelas sekarang, siapa yang memperjuangkan Islam dan siapa yang memilih bersekutu dengan musuh-musuh Allah SWT. Masihkan Anda ragu mengambil posisi dalam perjuangan ini? (rz)

Sumber : www.eramuslim.com

Lanjut!!

Terus ke bawah!!

Warning!!

Sedikit lagi!!

Ini Dia….

Gunawan Muhamad

Kader sosialis dan seorang kapitalis tulen yang kaya raya dari saham Tempo, Jawa Pos, dan berbagai perusahaan lainnya yang sinis terhadap agama (Islam). Selalu berperilaku seperti sosialis tulen yang moralis, demokratis, sok miskin, termasuk dengan penampilan kucel dan selalu memakai mobil Toyota kijang 1996-an. “Dialah agen utama Amerika di Indonesia,” kata seorang pensiunan perwira tinggi Angkatan Darat. Bersama Gus Dur, ia menerima hadiah uang senilai 250 ribu dollar AS (sekitar Rp 2,3 milyar) dan penghargaan “Dan David Prize” dari Israel. Dialah yang berperan dalam proses sekulerisasi di Indonesia dan membesarkan Abdurahman Wahid dan Nurcholis Madjid, sebagai lokomotif liberalisasi Islam di Indonesia dan dia pula yang mengorbitkan kalangan liberal seperti Ulil Abshar Abdala melalui Temponya.

Adnan Buyung Nasution

Pendukung AKKBB paling vocal. Pendiri YLBHI bersama tokoh intel Indonesia, Ali Moertopo. Dia selalu mengklaim diri sebagai lokomotif demokrasi. Padahal banyak tindakannya yang tidak demokratis, termasuk memecat Munarman dari posisi ketua YLBHI gara-gara Munarman mengadakan kegiatan pengajian di kantor YLBHI.

Todung Mulya Lubis

Dia adalah contoh kader sosialis yang telah berubah menjadi kapitalis sejati. Menjadi pengacara banyak perusahaan AS dengan gaji ribuan dollar per jam, namun masih suka ploretar. Dia sering menjual isu Indonesia dan Timor Timur saat menjadi Wakil Ketua Komisi Investigasi HAM untuk Timor-Timur. Menjadi Ketua International Crisis Group (ICG), lembaga pengkaji isu internasional yang analisanya tentang Islam dan Umat Islam sering melenceng dan menyakitkan.

M. Fajroel Rachman

Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman) Indonesia, adalah otak aksi mahasiswa ITB di tahun 1989. dikenal anti Islam dan menjadi motor dalam judicial review ke Mahkamah Konstirusi yang meminta pembubaran Lembaga Sensor Film (LSF) karena dianggap membunuh kreatifitas seni.

Rizal Malarangeng

Aktivis kapitalis neoliberal murni. Ketua Freedom Institute yang suka mejeng di baliho jalanan dengan semboyan Save Our Nation. Dan sebagai negosiator perjanjian Exxon Mobile. Jangan aneh melihat kekesalannya [baca kebenciannya] saat wawancara mengenai FPI pada insiden Monas di salah satu stasiun televisi swasta.

Ulil Abshar Abdalla

Dia adalah corong JIL paling tajam dan dikenal sebagai penentang formalitas dan hokum Islam. Saat ini sedang mengejar gelar doctor dan ditatrar untuk menjadi salah satu kader dan the Darling of Amerika di Boston. Dia dan seluruh aktivis jaringan Islam Liberal, komentarnya sudah sering keluar dari rambu syara. Misalnya, Guntur Romly pernah mengatakan bahwa naudzubillahi min dzalik—Al-Qur’an adalah kitab paling porno. Taufiq Adnan Amal mengatakan tafsir al-Qur’an sudah bias jender. Meski rata-rata mereka berasal dari lingkungan pesantren, mereka banyak yang sudah mengabaikan ibadah mahdlah seperti shalat lima waktu.

Musdah Mulia

Dia juga aktivis JIL yang pro homoseksual dan mengecam ulama yang menafsirkan al-Qur’an untuk menyalahkan kaum homo dan lesbi.

Luthfi Assyaukanie

Adalah dosen senior Universitas Paramadina, dan peneliti Freedom Institute yang mendapat dana jutaan dollar dari Amerika. Dia juga salah satu dewan pengarah di Maarif Institute, Co-Founder dan Anggota Dewan Pengarah JIL. Setelah menyelesaikan studi di Unibersity of Jordan dengan spesialisasi Filosofi dan Hukum Islam, ia lalu menyelesaikan gelar MA dan PhD di The University of Melbourne. Pandangannya tentang syariat Islam selalu negative.

Gus Dus

Sikapnya selalu negative terhadap formalitas hukum Islam. Dikenal sebagai sahabat Israel dan anggota Ghoyim Zionis. Pandangannya pun berbeda dengan pandangan PB Nahdlatul Ulama dalam masalah Islam Liberal, meski ia bekas Ketua Umum PB NU. Untuk kegiatan pro sekulerisme, pluralisme, liberalisme dan sosialisme, ia mendirikan The Wahid Institute yang dananya juga dari Amerika. Yang paling fresh dari Mr. Dur, beberapa waktu yang lalu, dia diundang ke AS untuk penganugerahan Medal of Valor (Medali Keberanian) dari Shimon Wiesenthal Center (WCS) karena dianggap sebagai sahabat paling setia dan paling berani terang-terangan menjadi pelindung kaum Zionis-Yahudi dunia di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar seperti Indonesia. Silakan baca di sini, sini. Dia juga pernah mengusulkan untuk membubarkan MUI,

Syafi’I Ma’arif

Sudah sejak lama, pandangannya cenderung pro Islam Liberal. Jika dulu pandangannya sering disebut Neo Mu’tazilah, belakangan diketahui bahwa ide-ide itu pula yang disebarkan anak muda JIL. Lulusan Chicago University ini pun membentuk Ma’arif Institute yang penelitiannya sering menyudutkan cita-cita penerapan hukum Islam di Indonesia. Dana Maarif Institute konon juga berasal dari Amerika.

Amin Rais

Tokoh inilah yang paling menyesakkan hati. Sebab, dalam wawancaranya dengan Tempo, Amin mengecam FUI sebagai gerakan siluman yang ingin menghabisi Ahmadiyah dengan operasi inteligen. Saat menjadi Ketua MPR, dia pernah menerima Pimpinan Ahmadiyah Internasional, Mirza Thahir Ahmad.

Orang-orang inilah para pendukung AKKBB. Yang menggantungkan hidupnya pada bantuan asing seperti USAID, Asia Fondation, Ford Fondation, AusAID, dan TIFA. Dibalik aksi AKKBB lah akhirnya terlihat ada kepentingan asing. Indonesia dalam kondisi terjajah dengan model baru. Para penjajah yang menggunakan antek-antek di negeri ini yang berlangsung secara sistematis. Tujuannya hanya satu, yakni menghalangi umat Islam melaksanakan syariatnya. Selain mereka, masih banyak lagi yang tergabung dan secara nyata telah menampakkan keapatisannya terhadap syariat Islam.

Leave a Reply